Saturday Night
Malam minggu ini saya mau cepat tidur, tepatnya jam 9. Tadi malam saya begadang, bukan begadang sih, tapi nggak bisa tidur. Nggak tau kenapa. Besok saya mau mencuci baju. Berarti malam ini pakaiannya harus direndam, biar gampang ngucek bajunya, jadi seluruh daki yang melekat gampang hilang. Berarti nggak capek, bukan nggak capek sih, tapi pekerjaanya lebih ringan seringan badanku. Malam ini pembukaan Euro di Swiss dan Austria. Kalau ada perhelatan antar negara, saya sering menjagokan Inggris, tapi tahun ini mereka harus sabar cuma bisa nonton. Nggak pa-apa, orang sabar disayang Tuhan.
Tapi, ketika mata ini mulai tertutup dan pikiranku melayang di ambang batas kesadaran seorang makhluk hidup datang. Ternyata manusia. Namanya Delson. Ngajak saya ngumpul bareng kawan-kawan lama SMA. Dan kami berangkat menyusuri jalanan Bandung yang macet, rame. Kehidupan urban. Dan kami sampai di Madtari, tempat nongkrong.
Oh, itu mereka. Kawan-kawan. Sudah duduk di tikar. Lesehan gitu. Veni, Yuyu, Aziz, Tondi, Aulia, Agus Rocky, Agus Wari, Randi…dan mereka yang tidak mau disebutkan namanya.
Dan mulailah obrolan. Dari yang berbobot sampai ke tidak berbobot. Tentang masa lalu dan masa depan. Tentang dunia maya dan dunia nyata. Obrolan para lelaki dan perempuan. Main gitar sambil nyanyi. Lagu Batak pula, dan lagu Batak jarang dinyanyikan dengan tidak lembut. Mungkin orang-orang disekeliling kami membatin,’iyeu lagu naon, sich?’, ’Basa planet naon eta?’, atau mungkin ’tuh orang bikin kuping gua panas’. Kami juga membatin,’biarin’. Tapi saya nggak ikut membatin karena saya nggak menyanyi. Nggak tau lirik dan sebagian artinya.
Kadang diselingi para musisi jalanan. Masih anak-anak. Juga seniman jalanan, seorang lelaki yang membaca puisi. Dan saya nggak tau isi puisinya apa karena tidak mendengar.
Semakin malam.
Kami masih ngobrol ini dan itu. Tapi lagunya sudah berbahasa Indonesia. Lalu kami pinjam perkusi seorang anak. Anak-anak tadi, yang ngamen. Tenang, dik, ntar kakak kembalikan kok. Dan saya berperan aktif menggebuknya. Dulu saya hobbi gendang pake meja sehingga ketika menggendang pake alat ini nggak ada masalah. Suasana kami buat menjadi gaduh. Bahkan tetangga kami, sekumpulan homo, ngikutin kegaduhan kami. Ya, mereka homo karena lelaki semua. Syukurlah di dekat sini tidak ada rumah sakit, puskesmas, atau panti jompo. Kalau ada, kami bisa masuk penjara karena mengganggu ketertiban umum. Sebagian besar lagu kami nyanyikan dengan tidak utuh dan sangat tidak sempurna, tanpa harmonisasi dan penghayatan. Cuma hapal reff, dan selainnya kami menggunakan kata-kata nanananana sehingga kami ingat nama guru bahasa Indnesia dulu, Pak Nana Sutisna. Seorang gila bola. Penggemar Real Madrid yang musim ini kedatangan Cristiano Ronaldo. Sampai sang adik tadi meminta kembali alat musiknya yang berharga. Sambil berterima kasih saya kembalikan tanpa berniat membelinya karena ia tidak menjual. Hanya meminjamkan.
Dan semakin malam. Satu-satu orang pergi. Dua-dua juga ada. Tapi biasanya tiga-tiga, yang ke tiga adalah setan.
Saya membaringkan badan di atas tikar. Untunglah bukan kasur, bisa-bisa saya ketiduran. Saya melihat langit, cuma satu bintang yang kelihatan di antara cabang pohon. Padahal jumlah bintang bermilyar, kenapa hanya satu yang kelihatan? Mungkin yang lain sudah tidur.
Saya nimbrung ketika teman saya membuka hape, melihat foto.
”Mo, ini keponakan kita”, katanya sambil nunjukin foto jabang bayi. Umurnya baru beberapa hari di dunia.
”Keponakan??”, kayaknya kakak saya nggak ada yang hamil, kalau ada saya pasti dikabari.
”Iya, teman kita si anu udah punya….dst…dst…”, begitulah.
Astaghfirullahal’adziim
…aku memohon ampun kepada Allah yang Maha Agung…
Jam 2 di hari yang masih dini saya telah sampai ke kostan. Saya ke kamar mandi. Kemudian membasuh wajah. Saya wudhu. Kemudian saya salat.
Hanya Engkau yang Maha Pengatur
Segala sesuatu terjadi atas kehendak dan izinMu…
hamba hanya sebutir debu kotor yang melayang tiada arah tanpa petunjukMu.
Saya berbaring, mau tidur. Menghidupkan tivi yang menyiarkan Euro. Portugal lawan Turki. Sudah babak kedua, masih 0-0. Tidur sajalah. Tivi akan saya matikan, tapi nggak jadi, karena sebuah gol hasil one-two menjebol gawang Turki. Pepe yang ngegolin. Setelah itu tivi mati tanpa ada yang menjenguk atau menangisinya.
Dan saya tidur, menyambung tidur yang terputus tadi. Ntar pagi masih harus mencuci pakaian.
Bandung, 08 Juni 2008


berarti intinya pembukaannya ga ntn gitu? hehe..
lagu bagus saya mau