All We Needed Was Love
Baru menonton film Nowhere Boy. Cerita tentang masa remaja John Lennon di Liverpool.
Orang tuanya meninggalkan ia sejak 5 tahun, kemudian dibesarkan saudara ibunya yang ia panggil Mimi.
Setelah ketemu ibunya ketika beranjak dewasa..oalah..Maknya itu tiba-tiba tewas ditabrak mobil..
Inikah yang membuat John Lennon nggak mau kehilangan orang-orang yang dicintainya,
sampai ia merelakan The Beatles demi Yoko Ono?
Imagine..
Jikalau Dewasa adalah Waktu dan Sebutan
Pencitraan dewasa seperti apa sih?
Faktanya, semakin bertambah tua, permasalahan hidup wajib nambah. Kalau nggak gitu pasti nggak asik, nggak seru buat seru-seruan ! halah, jadi iklan. Katanya, butuh sikap menghadapi situasi kayak gitu dengan keseimbangan pikiran. Jangan terlalu ke kanan, jangan pula terlalu ke kiri. Itulah kata buku-buku psikologi yang saya baca. Jangan harap tulisan gitu ada di buku resep makanan. Lha terus..?
Kalau dewasa adalah waktu dan sebutan…
Waktu zaman SMA, aku ngobrol bareng seorang teman di bawah langit malam sambil nikmatin pisang bakar yang masih hangat-hangat bukan taik ayam, tapi sehangat pantat ayam yang mau bertelor. Kami bicara banyak sana sini, dia nasehatin aku kalau di udah di Bandung begini dan begitu, aku juga nggak mau kalah ngomong ke dia begini dan begitu juga. Kemudian kami senyum-senyum dan sepakat ngomong ‘kayaknya kita terlalu cepat dewasa ya’, soalnya kami ngobrol serius kayak eksekutif muda yang mencanangkan mega proyek bikin jalan tol sepanjang Bukit Barisan sekaligus bikin stadion standar FIFA di pedalaman Papua. Dan sekarang, ketika kami sedang menimba ilmu di sumur pendidikan yang penuh muram durja, temanku itu udah punya satu anak. Itulah, kami udah dewasa duluan. Dia jadi ayah dan aku jadi om-om yang sedang mencari tante-tante. Mantab kali itu bah !
Percaya Saja
Jangan percaya siapapun. Kira-kira begitu kesimpulan saya waktu ngobrol bareng temen di suatu siang seminggu yang lalu dibawah rindangnya pohon pete. Tulisan ini juga aneh, belum apa-apa udah bikin kesimpulan. Ah, anggap saja jenis tulisan deduktif, eh deduktif atau induktif sih? Udahlah ngga usah diperpanjang.
Intinya, jangan terlalu mempercayai orang lain, termasuk kepada diri sendiri. Kalimat ini didapat dari proses panjang melalui pengalaman nggak meng-enak-kan dalam menjalin hubungan emosional dengan orang-orang. Kalau departemen kebudayaan dan pariwisata menyebutnya dengan istilah the culture of distrusted, yaitu ketika orang Indonesia terlalu sering ber-suudhon sehingga budaya tidak saling mempercayai semakin berkembang. Terserahlah apa kata mereka.
Jawaban tentang kepercayaan kepada orang lain saya coba mencari-cari sejak jaman dulu, waktu dark age menguasai pikiranku (halah). Sempat juga mengikuti doktrin nggak mempercayai siapapun. Sebuah pemikiran yang emosional. Malahan sangat emosional, maklumlah namanya berada dititik puncak ter-labil pada waktu itu. Meski merasa bebas merdeka, tapi efek sampingnya egois berlebihan.
Dan pada akhirnya saya semakin meyakini bahwa penggenggam hati manusia adalah Allah. Percaya kepada siapa saja, pun kalau mau berharap jangan lupakan yang menggenggam harapan itu. Bahkan diri kita sendiri, Dialah yang paling tau.

