Cerita Langit...

Para makhluk Tuhan bernaung dibawahnya, tak terkecuali gugusan bintang dan rembulan di angkasa. Disaksikannya zaman-zaman berlomba dengan waktu, atau bumi yang kian cepat berputar dan tergerus dimakan usia.

Alam semesta yang mahaluas telah diciptakanNya dengan sempurna. Tak jarang anugerah itu disalah tafsirkan oleh manusia-manusia di bumi. Ia pun menjadi bagian skenario Tuhan ketika mereka binasa dan tak sempat menebus dosa-dosanya. Ia sering berusaha lepas dengan melihat rerumputan hijau yang di atasnya terdapat domba-domba serta gembalanya menari dan berlari menikmati suguhan alam diiringi alunan suara yang syahdu. Semuanya berpadu dalam ayat-ayat Tuhan di semesta milikNya. Maka semua alam akan bertasbih dan terangkai khusyuk di malam hari.

Andai ia langit ke tujuh, akan disambutnya kedatangan Muhammad dari bumi ketika melakukan Mi’raj. Ia juga turut mengantar malaikat-malaikat yang akan turun ke bumi membawa tugas dari Tuhannya. Tetapi ia hanya langit pertama dan perintis dari semua langit, masih banyak langit di atasnya. Tak jelas batas itu berada.

Jalan-jalan Sore di Pameran Mainan...

Syukurlah saya sudah besar ketika datang ke pameran ini. Syukur juga saya nggak membawa keponakan yang masih kecil. Kalau tidak, kemungkinan besar uang belanja sebulan akan habis secepat saya makan ketika kelaparan.

Tanggal 4 sampai 6 kemarin di Bee Mall diadakan pameran hobi dan mainan, di spanduknya ditulis dalam bahasa Inggris, Hobbies and Toys Fair. Mulai dari action figure, aeromodelling, anime, komik, kereta model, dan lain-lain dengan desain yang bagus berjajar menggoda di sepanjang lantai dasar mall ini. Yang menarik perhatian saya adalah miniatur kereta yang terletak di bagian sudut ruangan. Kereta model ini sangat kelihatan real dan detil dengan background pegunungan yang mendukung suasana. Kereta yang api yang mungil.

Saya jadi teringat film Toy Story ketika melihat action figure di kotak, mainan yang hidup dan bergerak, ketika Buzz tidak sadar bahwa dirinya adalah mainan dan dengan angkuhnya ia berusaha terbang sambil mengucap ”To infinitive…in beyond..!!”

Waktu masih kecil, action figure yang banyak saya kumpulkan adalah tokoh-tokoh Dragon Ball. Kalau dibelikan mainan baru, mainan itu akan saya ’keloni’ atau dibawa sampai tidur, biasanya saya letakkan di dekat kepala supaya bisa dilihat-lihat. Paginya, ia sudah pindah, ke kaki, jatuh dari tempat tidur, bahkan sampai ketimpa tubuh..untunglah saya nggak ngompol..

Everything You Know There will be Change...

Galileo Galilei dianggap sesat oleh pemuka agama di Italia ketika mendukung teori heliosentris lalu menentang teori Aristoteles dan Ptolomeus. Rasulullah Muhammad di anggap penyihir ketika menyampaikan tauhid kepada kaum Quraisy. Masih banyak contoh manusia pelopor yang ditentang masyarakat di zamannya namun beberapa ratus tahun kemudian kebenaran mereka diakui dunia, termasuk dunia persilatan.

Everything you know there will be change. Semua yang ada sekarang hanyalah jawaban sementara. Nggak perlu terlalu terpaku pada suatu paham, trend, lifestyle, padahal tujuan kita hanya ingin dipuji orang. Karena suatu saat semuanya pasti berubah, kalau sudah berubah otomatis kita ikut-ikutan berubah, seolah-olah nggak punya prinsip hidup. 2×3 sama dengan 6, tetapi 2×3 bisa juga ukuran pasfoto. Kecuali menentang Tuhan dan Rasul-Nya, sepertinya sah-sah saja kalau kita keluar dari aturan dan teori yang dibuat manusia selama ini. Silahkan menjadi diri sendiri…

Saturday Night...

Malam minggu ini saya mau cepat tidur, tepatnya jam 9. Tadi malam saya begadang, bukan begadang sih, tapi nggak bisa tidur. Nggak tau kenapa. Besok saya mau mencuci baju. Berarti malam ini pakaiannya harus direndam, biar gampang ngucek bajunya, jadi seluruh daki yang melekat gampang hilang. Berarti nggak capek, bukan nggak capek sih, tapi pekerjaanya lebih ringan seringan badanku. Malam ini pembukaan Euro di Swiss dan Austria. Kalau ada perhelatan antar negara, saya sering menjagokan Inggris, tapi tahun ini mereka harus sabar cuma bisa nonton. Nggak pa-apa, orang sabar disayang Tuhan.

Tapi, ketika mata ini mulai tertutup dan pikiranku melayang di ambang batas kesadaran seorang makhluk hidup datang. Ternyata manusia. Namanya Delson. Ngajak saya ngumpul bareng kawan-kawan lama SMA. Dan kami berangkat menyusuri jalanan Bandung yang macet, rame. Kehidupan urban. Dan kami sampai di Madtari, tempat nongkrong.

Oh, itu mereka. Kawan-kawan. Sudah duduk di tikar. Lesehan gitu. Veni, Yuyu, Aziz, Tondi, Aulia, Agus Rocky, Agus Wari, Randi…dan mereka yang tidak mau disebutkan namanya.

Dan mulailah obrolan. Dari yang berbobot sampai ke tidak berbobot. Tentang masa lalu dan masa depan. Tentang dunia maya dan dunia nyata. Obrolan para lelaki dan perempuan. Main gitar sambil nyanyi. Lagu Batak pula, dan lagu Batak jarang dinyanyikan dengan tidak lembut. Mungkin orang-orang disekeliling kami membatin,’iyeu lagu naon, sich?’, ’Basa planet naon eta?’, atau mungkin ’tuh orang bikin kuping gua panas’. Kami juga membatin,’biarin’. Tapi saya nggak ikut membatin karena saya nggak menyanyi. Nggak tau lirik dan sebagian artinya.

Kadang diselingi para musisi jalanan. Masih anak-anak. Juga seniman  jalanan, seorang lelaki yang membaca puisi. Dan saya nggak tau isi puisinya apa karena tidak mendengar.

 

Semakin malam.

Kami masih ngobrol ini dan itu. Tapi lagunya sudah berbahasa Indonesia. Lalu kami pinjam perkusi seorang anak. Anak-anak tadi, yang ngamen. Tenang, dik, ntar kakak kembalikan kok. Dan saya berperan aktif menggebuknya. Dulu saya hobbi gendang pake meja sehingga ketika menggendang pake alat ini nggak ada masalah. Suasana kami buat menjadi gaduh. Bahkan tetangga kami, sekumpulan homo, ngikutin kegaduhan kami. Ya, mereka homo karena lelaki semua. Syukurlah di dekat sini tidak ada rumah sakit, puskesmas, atau panti jompo. Kalau ada, kami bisa masuk penjara karena mengganggu ketertiban umum. Sebagian besar lagu kami nyanyikan dengan tidak utuh dan sangat tidak sempurna, tanpa harmonisasi dan penghayatan. Cuma hapal reff, dan selainnya kami menggunakan kata-kata nanananana sehingga kami ingat nama guru bahasa Indnesia dulu, Pak Nana Sutisna. Seorang gila bola. Penggemar Real Madrid yang musim ini kedatangan  Cristiano Ronaldo. Sampai sang adik tadi meminta kembali alat musiknya yang berharga. Sambil berterima kasih saya kembalikan tanpa berniat membelinya karena ia tidak menjual. Hanya meminjamkan.

 

Dan semakin malam. Satu-satu orang pergi. Dua-dua juga ada. Tapi biasanya tiga-tiga, yang ke tiga adalah setan.

Saya membaringkan badan di atas tikar. Untunglah bukan kasur, bisa-bisa saya ketiduran. Saya melihat langit, cuma satu bintang yang kelihatan di antara cabang pohon. Padahal jumlah bintang bermilyar, kenapa hanya satu yang kelihatan? Mungkin yang lain sudah tidur.

Saya nimbrung ketika teman saya membuka hape, melihat foto.

”Mo, ini keponakan kita”, katanya sambil nunjukin foto jabang bayi. Umurnya baru beberapa hari di dunia.

”Keponakan??”, kayaknya kakak saya nggak ada yang hamil, kalau ada saya pasti dikabari.

”Iya, teman kita si anu udah punya….dst…dst…”, begitulah.

Astaghfirullahal’adziim

…aku memohon ampun kepada Allah yang Maha Agung…

 

Jam 2 di hari yang masih dini saya telah sampai ke kostan. Saya ke kamar mandi. Kemudian membasuh wajah. Saya wudhu. Kemudian saya salat.

Hanya Engkau yang Maha Pengatur

Segala sesuatu terjadi atas kehendak dan izinMu…

hamba hanya sebutir debu kotor  yang melayang tiada arah tanpa petunjukMu.

 

Saya berbaring, mau tidur. Menghidupkan tivi yang menyiarkan Euro. Portugal lawan Turki. Sudah babak kedua, masih 0-0. Tidur sajalah. Tivi akan saya matikan, tapi nggak jadi, karena sebuah gol hasil one-two menjebol gawang Turki. Pepe yang ngegolin. Setelah itu tivi mati tanpa ada yang menjenguk atau menangisinya.

Dan saya tidur, menyambung tidur yang terputus tadi. Ntar pagi masih harus mencuci pakaian.

 

 

Bandung, 08 Juni 2008

 

 

Sunset...

_sebuah memori tentang matahari tenggelam

Sudah lama tak kulihat batara surya pulang ke peraduan bersama sisa sore, memantulkan cahaya kemerah-merahan di asinnya air laut yang mulai hijau kecoklatan, dan airnya akan terasa amat menyilaukan. Seketika itu juga batara bayu meniupkan udara sejuk di tepi pantai mengalahkan peluh dan kegerahan. Nun di kejauhan, di antara suara ombak dan senja yang mulai padam beberapa anak asyik bermain bola. Bahkan di antara mereka masih ada yang berenang tanpa merasa kedinginan.

Kadang, kusaksikan matahari perlahan tenggelam di balik bukit dari jendela kamar. Meninggalkan lazuardi di luasnya marcapada, kebanyakan cahaya itu hinggap di awan sirrus dan kumulus, berbentuk bulu halus yang kadang terpisah-pisah dan kadang tersusun secara teratur dalam kelompok-kelompok. Yang paling kukagumi adalah pada bagian ini. Ketika awan dan langit perlahan menjadi jingga, merah, ungu, semuanya tercampur namun tetap elok. Puncak bukit, pepohonan beserta daunnya, burung yang terbang sekalipun akan terlihat siluet. Membentuk lukisan alam yang maha sempurna. Subhanallah!! Dialah desainer paling hebat di jagat raya ini.

Page 8 of 9« First...«56789»