Rainy Day...

Musim hujan sebenernya lebih enak dibandingin musim kemarau. Karena hujan identik dengan dingin/ adem/ tiris/ cold/ etc..dan kemarau identik dengan panas/ gerah/ haredang/ milas/ hot/ dan sejenisnya. Panas juga enak kalau hadir di suasana yang dingin, tapi yang dingin-dingin lebih enak kalau kita kepanasan.
Semuanya serba berkebalikan, berseberangan, berbeda, bertolak belakang. Sama halnya dengan sebuah tren yang berkembang di masyarakat. Misalnya, ketika kebanyakan orang berbondong-bondong bergaya A, yang canggih pula, dunia ini pasti lebih seru kalau ada yang berani bergaya sebaliknya.
Kembali ke musim hujan. Saya senang hujan, katanya hujan itu rahmat (bukan pak rahmat). Apalagi kalau kita memperhatikan titik-titik hujan yang jatuh dari langit lalu perlahan tapi pasti membasahi rumput yang hampir kering…
Tapi kalau tiap hari hujan…pakaianku nggak ada yang kering…apalagi underwearku yang persediaannya sangat terbatas…hihi..hayo ngaku, kamu juga gitu kan…

Laskar Pelangi The Movie : THR Untuk Neg...

Laskar Pelangi The Movie benar-benar menjadi THR (Tontonan Hari Raya) yang muantep. Biasanya, jika sebuah novel diangkat ke layar lebar terdapat banyak hal yang tidak sesuai dalam imajinasi pembaca. Tapi untuk yang satu ini, antara novel dan film terdapat keselarasan yang membuat inti cerita dalam film tidak jauh berbeda dengan film.
Walaupun terdapat sedikit pembelokan, seperti Pak Harfan yang meninggal (di novel sih, nggak), tapi tidak mempengaruhi kulitas cerita, justru menjadikan suasana semakin daramatis (bukankah pendramatisan yang disukai penonton kita?). Tokoh yang tidak sesuai dengan imajinasi saya adalah Mahar, saya hanya membayangkan dia adalah ‘seniman gila’, tapi di film ini-didukung dengan peran yang kuat- Mahar tampil lebih gila. Dan anda pasti terkekeh pas adegan Ikal membeli kapur tulis, ketika dia berjumpa dengan A Ling.

Saya heran, setiap film yang ada Tora Sudiro dan di film ini perannya serius, tapi masih saja menyisakan kekonyolannya. Wong Aksan juga hebat euy dalam meracik musiknya, suasana etnis sangat terasa di setiap alunannya.

Laskar Pelangi, sebuah refleksi kecil kehidupan kita. Ketika kita hanya bisa bermimpi dan mimpi itulah yang yang memberi harapan hidup. Sampai sekarang pasti masih banyak orang yang mengalami nasib sama dengan Lintang. Seorang jenius yang harus mengubur mimpinya karena tuntutan untuk bertahan hidup, tapi semangat Lintang tak pernah padam bahkan menular kepada orang-orang di sekitarnya.
Memberi sebanyak-banyaknya lebih baik daripada banyak menerima, tapi yang sering kita lupakan adalah bersyukur. Dan film Laskar Pelangi ini mengajarkan kita agar banyak bersyukur atas segala karunia Tuhan.
Ada baiknya kita membaca novel Abang Andrea Hirata tersebut sebelum menonton filmnya, agar kita lebih paham cerita Laskar Pelangi ini. Menurut Mizan Production ketika diwawancarai di Delta FM, cerita ‘Sang Pemimpi’ juga bakal dibuat filmnya. So, kita tunggu saja cerita Ikal bersama Arai tersebut.

Page 7 of 14« First...«56789»...Last »