Rainy Day...

Musim hujan sebenernya lebih enak dibandingin musim kemarau. Karena hujan identik dengan dingin/ adem/ tiris/ cold/ etc..dan kemarau identik dengan panas/ gerah/ haredang/ milas/ hot/ dan sejenisnya. Panas juga enak kalau hadir di suasana yang dingin, tapi yang dingin-dingin lebih enak kalau kita kepanasan.
Semuanya serba berkebalikan, berseberangan, berbeda, bertolak belakang. Sama halnya dengan sebuah tren yang berkembang di masyarakat. Misalnya, ketika kebanyakan orang berbondong-bondong bergaya A, yang canggih pula, dunia ini pasti lebih seru kalau ada yang berani bergaya sebaliknya.
Kembali ke musim hujan. Saya senang hujan, katanya hujan itu rahmat (bukan pak rahmat). Apalagi kalau kita memperhatikan titik-titik hujan yang jatuh dari langit lalu perlahan tapi pasti membasahi rumput yang hampir kering…
Tapi kalau tiap hari hujan…pakaianku nggak ada yang kering…apalagi underwearku yang persediaannya sangat terbatas…hihi..hayo ngaku, kamu juga gitu kan…

Sebuah Keniscayaan Hidup...

_____ tentang sebuah tujuan hidup

Menentukan tujuan hidup adalah suatu keniscayaan. Tujuan hidup tidak begitu saja terwujud tanpa adanya suatu proses panjang dalam waktu yang lama dengan segala pembelajarannya. Allah telah mewahyukan bahwa tujuan hidup manusia adalah untuk menyembah dan mengabdi kepada-Nya serta menjadi khalifah dimuka bumi ini. Tetapi suatu keharusan pula menentukan tujuan-tujuan parsial untuk mencapai tujuan akhir tersebut.
Dasar pemikiran ini yang mengantarkanku terhadap prinsip hidup yang lebih luas lagi. Hidup tidak sekedar bangun pagi kemudian mendapati siang lalu menjemput malam, tanpa hikmah dan pembelajaran.
Hidup tidak sekedar duduk termangu menanti rahmat turun dari langit, tanpa suatu usaha dan karya nyata.
Hidup bukan pula menghitung bintang dilangit dan mengukur luasnya lautan, tanpa tujuan yang yang pasti.
Hidup didunia adalah suatu masa dimana bisa belajar banyak tentang hakikat ciptaan Allah, dengan segala kesempurnaanNya.
Hidup adalah bekerja dan berkarya nyata untuk meningkatkan harkat dan kemuliaan hidup, di dunia dan di akhirat.
Dan hanya ikhtiar yang menyampaikanku ke sana….semoga bisa….pasti bisa…

(sebelumnya telah saya posting di ‘mantan’ blog tercinta yang sekarang telah menjadi kenangan)

Kapan ‘sabar’ ?...

Saya terlambat datang ke acara buka bareng temen-temen alumni Matauli kemarin. Walhasil orang-orang sudah pada selesai makan waktu saya sampe lokasi kejadian. Dan yang saya saksikan hanyalah sisa-sisa nasi timbel bersama tulang belulang ayam goreng yang sebenarnya menggoda jiwa. Tapi syukurlah saya nggak tergoda karena perut udah kenyang air didukung volume lambung yang memang kecil.
Bahkan kemarinnya kemarin, saya buka puasa sambil sahur. Maksud saya makan nasi untuk buka puasa sekaligus sahur. Ya itu tadi, nggak selera makan nasi sampe terbawa tidur. Padahal waku buka puasa saya nggak melakukan aksi balas dendam.
‘Bubar’ atau buka bareng sudah menjadi ritual penting di bulan ramadhan. Karena detik-detik berbuka merupakan moment dalam hidup yang nggak pernah tergantikan, apalagi buka puasanya bareng temen. Tapi, jarang terdengar atau saya yang nggak pernah dengar sahur bareng yang disingkat ‘sabar’. Mantap, bisa melihat wajah-wajah tidur sambil makan atau keburu-buru makan karena imsak sebentar lagi…

Kota Itu Berjulukan Kota Salak...

Bila anda melakukan perjalanan darat dari kota Padang menuju Medan dengan rute Sibolga -Tarutung, anda akan melewati satu kota berkembang yang mendapat julukan kota salak. Bukan karena di tengah kota ada tugu salak raksasa seperti halnya kawasan utara kota Padang tahun 80-an yang mendapat julukan kota bingkuang, tetapi karena kota ini menghasilkan salak yang melimpah, hampir sepanjang hari sepanjang tahun.
Teringat pada lagu daerah setempat yang sering terdengar sejak dulu
“ketabo-ketabo…/Ketabo dongan tu sidimpuan on/Musim ni salak sannari disi dongan/…
…..dst (kelupaan..he…he…)
Terjemahan bebasnya kurang lebih : re kayo rek, mlaku-mlaku nang sidimpuan, disana lagi musim salak lho….
Dari sepenggal lagu ini terbayang jelas, kalau di Padangsidimpuan selain musim hujan dan kemarau ada juga musim salak sepanjang tahun….Untuk daerah-daerah pemukiman padat salak ini penduduk menyebutnya Parsalakan, artinya ya itu tadi, tempat menyalak…he..he,tepatnya tempat tumbuh salak. Umumnya daerah luar Kota Padangsidimpuan, yang berdekatan dengan bukit dan gunung.

Salak-salak ini memiliki rasa khas, buahnya tak terlalu besar amat, rasanya manis-manis sepat, tidak seperti halnya salak pondoh yang manis sekali. Enak sekali kalau dibuat manisan,..itulah salak Sidimpuan
Bila anda membeli salak di kota ini, packaging yang anda dapatkan sangatlah khas, sangat peduli lingkungan sekali, penduduk menyebutnya dengan sumpit, yakni karung yang dianyam dari daun salak yang telah dikeringkan. Ukuran karungnyanya nggak besar-besar amat, segede kantong kresek yang di swalayan.

Foto diambil dari bukit Simarsayang sekitar bulan September 2006.

(diimport dari blog yang seharusnya didedikasikan untuk kampung halaman, tapi sampai sekarang nggak kelar-kelar)

It’s The Real World...

Dari salah satu sudut pandang, hidup di bumi tak lebih dari urusan mengisi perut, korup, kehormatan.

Benar adanya bahwa dunia adalah penjara bagi orang-orang mukmin dan surga bagi orang-orang yang lalai. Golongan mana kita?

Page 7 of 9« First...«56789»