Jikalau Dewasa adalah Waktu dan Sebutan...

Pencitraan dewasa seperti apa sih?

Faktanya, semakin bertambah tua, permasalahan hidup wajib nambah. Kalau nggak gitu pasti nggak asik, nggak seru buat seru-seruan ! halah, jadi iklan. Katanya, butuh sikap menghadapi situasi kayak gitu dengan keseimbangan pikiran. Jangan terlalu ke kanan, jangan pula terlalu ke kiri. Itulah kata buku-buku psikologi yang saya baca. Jangan harap tulisan gitu ada di buku resep makanan. Lha terus..?

Kalau dewasa adalah waktu dan sebutan…

Waktu zaman SMA, aku ngobrol bareng seorang teman di bawah langit malam sambil nikmatin pisang bakar yang masih hangat-hangat bukan taik ayam, tapi sehangat pantat ayam yang mau bertelor. Kami bicara banyak sana sini, dia nasehatin aku kalau di udah di Bandung begini dan begitu, aku juga nggak mau kalah ngomong ke dia begini dan begitu juga. Kemudian kami senyum-senyum dan sepakat ngomong ‘kayaknya kita terlalu cepat dewasa ya’, soalnya kami ngobrol serius kayak eksekutif muda yang mencanangkan mega proyek bikin jalan tol sepanjang Bukit Barisan sekaligus bikin stadion standar FIFA di pedalaman Papua. Dan sekarang, ketika kami sedang menimba ilmu di sumur pendidikan yang penuh muram durja, temanku itu udah punya satu anak. Itulah, kami udah dewasa duluan. Dia jadi ayah dan aku jadi om-om yang sedang mencari tante-tante. Mantab kali itu bah !

Percaya Saja...

Jangan percaya siapapun. Kira-kira begitu kesimpulan saya waktu ngobrol bareng temen di suatu siang seminggu yang lalu dibawah rindangnya pohon pete. Tulisan ini juga aneh, belum apa-apa udah bikin kesimpulan. Ah, anggap saja jenis tulisan deduktif, eh deduktif atau induktif sih? Udahlah ngga usah diperpanjang.

Intinya, jangan terlalu mempercayai orang lain, termasuk kepada diri sendiri. Kalimat ini didapat dari proses panjang melalui pengalaman nggak meng-enak-kan dalam menjalin hubungan emosional dengan orang-orang. Kalau departemen kebudayaan dan pariwisata menyebutnya dengan istilah the culture of distrusted, yaitu ketika orang Indonesia terlalu sering ber-suudhon sehingga budaya tidak saling mempercayai semakin berkembang. Terserahlah apa kata mereka.

Jawaban tentang kepercayaan kepada orang lain saya coba mencari-cari sejak jaman dulu, waktu dark age menguasai pikiranku (halah). Sempat juga mengikuti doktrin nggak mempercayai siapapun. Sebuah pemikiran yang emosional. Malahan sangat emosional, maklumlah namanya berada dititik puncak ter-labil pada waktu itu. Meski merasa bebas merdeka, tapi efek sampingnya egois berlebihan.

Dan pada akhirnya saya semakin meyakini bahwa penggenggam hati manusia adalah Allah. Percaya kepada siapa saja, pun kalau mau berharap jangan lupakan yang menggenggam harapan itu. Bahkan diri kita sendiri, Dialah yang paling tau.

Dan musim panas pun tiba...

Sepanjang jalan Siliwangi ramai akan daun gugur. Ada yang masih terbang, kemudian jatuh dan menumpuk di tepi jalan menjadi gundukan lalu berbaris berwarna kuning keemasan. Kalau selama ini langit pagi selalu kelabu, tidak dengan sekarang. Gumpalan awan nampak cerah karena matahari bersinar pijar sampai ke bumi.

Manusia-manusia akan mengeluh dan mengeluh, “hareudang pisan”, pikirku.

Musim panas akhirnya tiba di Bandung. Meninggalkan musim dingin yang panjang.

Hujan-hujan Begini...

Hujan-hujan begini enaknya ngelingkerin badan di kamar sambil merangsang kelopak mata dan otak supaya amnesia sejenak.

Tapi hujan-hujan deras begini saya terpaksa diem tegak berdiri di emperan pasar dago. kalo nggak dipaksain, badan saya yang kurus dan kusam bakalan disiram hujan dan pasti makin kusut dengan bentuk yang ngga jelas.

Setiap orang yang nunggu hujan berhenti biasanya punya style berdiri yang sama, kepalanya tegak dengan kedua tangan melipat di dada, mirip orang yang lagi nonton panjat pinang waktu tujuhbelasan. Masing-masing pasti lagi mikirin sesuatu, dan kalo saya perhatiin kemungkinan besar nggak ada yang mikirin skandal bank Century, soalnya orangnya nggak ada yang seperti pejabat negara.

Hujan-hujan begini, saya berdiri di samping bakul CD bajakan. Speakernya kenceng muter lagu si BCL, yang lirik lagunya ada ngirim malaikat-malaikatnya itu…

Berhentilah hujan, saya mau pulang terus nyelesein episode kamen rider Den-O. Ore sanjou !

Sekali-Sekali Idle...

Sudah hampir sebulan ini account facebook-ku deactive-in. Engga bermaksud mutusin tali silaturahim atau pensiun sebagai makhluk sosial. Tapi sekedar mengusir kebosanan biar hidup nggak flat, jadi bisa dinamis kayak keripik kentang. Karena dari bangun tidur sampai menjelang tidur lagi kalau menghadap layar komputer, situs itulah yang jadi suguhan utama. Terus kupandangi status orang satu demi satu. Belum ada yang nulis ngasih makanan gratis.

Semacam penjernihan pikiran, mendefragment hardisk otak, membersihkan junk files, membabat habis spam, memaintenance server.

Di sebuah konser Oasis, konsernya di Manchester, tapi sayang aku melihatnya cuma dari layar kaca ga pake gatot. Mereka nyanyiin lagu ‘The Importance of Being Idle’, terus di screen panggung terpampang sebuah tulisan :
Most of the trouble in the world seems to come from people who are too busy.

Berhenti sejenak dari keramaian. Tidur sepuasnya. Bangun tidur , tidur lagi.

Page 5 of 9« First...«34567»...Last »