Pencitraan dewasa seperti apa sih?
Faktanya, semakin bertambah tua, permasalahan hidup wajib nambah. Kalau nggak gitu pasti nggak asik, nggak seru buat seru-seruan ! halah, jadi iklan. Katanya, butuh sikap menghadapi situasi kayak gitu dengan keseimbangan pikiran. Jangan terlalu ke kanan, jangan pula terlalu ke kiri. Itulah kata buku-buku psikologi yang saya baca. Jangan harap tulisan gitu ada di buku resep makanan. Lha terus..?
Kalau dewasa adalah waktu dan sebutan…
Waktu zaman SMA, aku ngobrol bareng seorang teman di bawah langit malam sambil nikmatin pisang bakar yang masih hangat-hangat bukan taik ayam, tapi sehangat pantat ayam yang mau bertelor. Kami bicara banyak sana sini, dia nasehatin aku kalau di udah di Bandung begini dan begitu, aku juga nggak mau kalah ngomong ke dia begini dan begitu juga. Kemudian kami senyum-senyum dan sepakat ngomong ‘kayaknya kita terlalu cepat dewasa ya’, soalnya kami ngobrol serius kayak eksekutif muda yang mencanangkan mega proyek bikin jalan tol sepanjang Bukit Barisan sekaligus bikin stadion standar FIFA di pedalaman Papua. Dan sekarang, ketika kami sedang menimba ilmu di sumur pendidikan yang penuh muram durja, temanku itu udah punya satu anak. Itulah, kami udah dewasa duluan. Dia jadi ayah dan aku jadi om-om yang sedang mencari tante-tante. Mantab kali itu bah !



