Posted by ipung in
All In The Mind on 09 22nd, 2010 |
leave a comment »
Terang Gelap di Jalan Aspal...
Sore itu, Orang-orang lalu lalang berjalan di sepanjang jalan yang ramai. Ke sana kemari, ke situ ke sini, ke pusat belanja ke pusat makanan. Berbagi manfaaat dengan berbagi rezeki. Bersepatu dan berpakaian bagus. Berpasang-pasangan bergandengan tangan, bertiga-tigaan, berempat-empatan, jarang yang bersatu-satuan, kecuali para pengemis yang menjalankan pekerjaan atau sopir angkot yang menawarkan setiap orang untuk menaiki mobilnya (baik ya dia?). Banyak yang berkerudung sambil menunduk menjaga langkahnya, setiap nafas bagi mereka adalah zikir, barangkali, karena maut mengintai di mana saja. Banyak yang ber tank top, seksi dan menebarkan aroma syahwat di mana-mana.
Di antara mereka ada yang bersalaman-salaman, pastinya mereka saling mengenal, kalau ngga kenal kurang kerjaan salam-salaman begitu kecuali mereka baru kenalan. Mungkin teman sekantornya, bekas karyawan, bekas tetangga, bekas pacar, bekas istri, atau ada bekas saudara?
Katanya baru jumpa setelah libur dalam rangka lebaran karena lebaran di kalender dicetak merah oleh pemerintah, entah menteri mana yang mengurusi tanggal merah itu. Kalau lebaran itu salam-salaman, ngga tau memaafkan atau bukan, yang penting salaman biar kelihatan baru lebaran dan lama sudah tak ketemu.
Malam itu, di sebuah jalan beraspal. Ada dua kios parfum yang berhadapan. Yang satu sunyi, ayam yang mau mengeluarkan telur sepertinya cocok ada disana, satunya lagi ramai kayak warteg di siang hari diserbu orang kelaparan. Di tempat yang ramai itu peramu parfumnya banyak, sekitar tujuh orang cekatan mencampurkan larutan yang satu dengan yang lain, konsentrasi mengocok gelas larutan di depan wajah mereka. Pundi – pundi rupiah mengalir seketika. Sementara di tempat yang sunyi itu tak banyak manusia kecuali seseorang yang duduk di kursi sambil melakukan hal yang tak jelas pula.
Hujan turun, diakhiri gerimis besar, kemudian gerimis kecil dan koor binatang malam.