Siklus Terus Menerus...


Aku ingin turun bersama hujan lalu menjadi embun di kala pagi

Ketika Candra Kirana tak lagi mesra aku luruh mencair

Aku yakin Batara Surya menggapaiku ke awang-awang menyatu dengan jutaan butir embun lainnya

Biarlah Batara Indra membuai kesana kemari dengan ceria dan bersahabat

Sesekali ia mengantar kami ke puncak gunung hijau tanpa terusik apapun

Lalu melintas laut ketika riaknya tenang dan lembut

Di saat gelap kami turun ke bumi, singgah di klorofil di kaki bukit.

Begitulah, aku abadi.

(foto : moto sendiri)

Bunyi Bambu Dan Yang Lain...

Ada banyak bambu, kebanyakan bambu hitam. Di sudut itu ada bambu, di sudut sana juga ada, mereka dialasi rumput liar di bawahnya. Batangnya menjulang tinggi dan menunduk di bagian atasnya, daunnya merumbai-rumbai seperti menggoda angin yang sedang menerjang di udara, suaranya lirih.

Lelaki itu berjalan, melihat bangunan, rumah, semacam saung, galeri, kandang domba, ada juga kandang kalong, dan toilet. Semuanya tak lepas dari kesan bambu. Tiangnya ada yang terbuat dari bambu, kursi dari bambu. Dan dari bambu itu orang-orang di sini membuat alat musik, bambu berukuran kecil mereka potong-potong, sehingga mirip tabung berukuran 20-40 cm. Beberapa disejajarkan, ada yang dua biji, tiga, sampai empat. Satu kesatuan tersebut menjadi satu nada. Sehingga dibutuhkan beberapa biji yang digantung berjejer membentuk tangga nada berurutan untuk mendendangkan sebuah lagu. Cara memainkannya digoyang..klulululuuung..kira-kira begitu bunyinya, bukan toeeeet..itu suara terompet, atau kukuruyuuuk..beda jauh. Dan di sana ada perempuan sekitar 8 orang yang sedang memainkannya. Mereka sedang latihan entah lagu apa. Mau bertanya rasanya malu, tapi untungnya di sini bukan jalan sehingga tidak tersesat. Waktu alat musiknya dimainkan, suasana jadi ramai mengimbangi kontes burung.

Bunyi-bunyian tadi menggema beberapa saat biarpun sudah berhenti. Harusnya fenomena ini dijawab secepatnya, tapi lelaki itu lupa membawa buku rumus fisikanya.

Senja sedikit berkabut, jelas terdengar senandung shalawat tak sayup-sayup dari sebuah masjid di sebelah sana, sedang menunggu maghrib..hasbi rabbi jallallah, ma fi qalbi ghayrullah, begitu katanya. Dan perlahan bunyi-bunyi tadi tergantikan.

Kerlip Kunang-Kunang di Pucuk Daun Basah...

Jika memandang sekilas nampak ratusan pohon pinus, memandang lebih teliti akan nampak ratusan pohon besar yang entah apa namanya dibuat para penemu pohon itu. Tak ada pohon kurma dan kaktus bertengger di tanah ini, katanya bukan wilayah kekuasaan mereka, kalau mereka tumbuh di situ bisa-bisa terjadi perang merebutkan wilayah. Tapi ternyata tumbuhan itu cinta damai, mereka bersyukur dengan kemampuan dan jatah hidupnya masing-masing. Buktinya sampai sekarang belum ada kabar kalau pohon-pohon perkasa itu hidup dan berjalan, akarnya menjalar ke dalam tanah lalu tiba-tiba muncul keluar dan membunuh manusia, kreek!

Dalam satu gerimis di sebuah hutan. Di tengah kubangan kabut tebal. Dingin. Lembab. Tapi ramai karena menjadi tempat orang berkemah. Dari setiap mulut mereka mengeluarkan asap. Seperti merokok, tapi rokoknya gratis dan sehat. Di kerumunan manusia itu ada seorang lelaki muda. Ia memakai jaket tebal untuk mengimbangi kabut putih di sekelilingnya. Warna alam yang dominan hijau membuatnya kelihatan damai. Tapi sebentar lagi malam, pasti gelap, kalau tidak gelap bukan malam, dan kalau mau terang harus dibantu penerangan. Tak masalah mau gelap atau terang karena lelaki itu tak akan bermalam di hutan, ia hanya bersore mampir menemani teman-temannya. Sebentar lagi ia pulang setelah sore menyusuri bukit licin di sekitar.

Ribuan jangkrik mulai kolaborasi dan mengadakan konser terjadwal. Burung –burung malam mulai bernyanyi lagu menyeramkan. Daun berbisik lirih, diam dan kaku, menjadi basah karena menampung jutaan embun yang hinggap di klorofil mereka. Lelaki itu pun melangkah pulang dalam nuansa hening. Kedua tangannya hangat di dalam saku jaketnya. Matanya liar mencari sesuatu. Kadang menyentuh helai daun di tepi jalan setapak. Lehernya ia putar ke sana-ke mari, ke atas dan bawah, tapi dia bukan senam. Mengacaukan suasana saja kalau senam di waktu seperti ini.

Tepat di sebuah belokan itu ia melihat sesuatu yang berkedip, cahaya kecil, tenang itu bukan setan, tetapi kunang-kunang. Langkahnya terhenti sesaat. Seekor kunang-kunang terbang di sela daun, mungkin mengintip lelaki itu. Lelaki itu hanya tersenyum kecil. Sepertinya butuh seribu kunang-kunang agar ia senyum lebar, apalagi jika hinggap di tubuhnya, ia pasti akan tertawa.

Terang Gelap di Jalan Aspal...

Sore itu, Orang-orang lalu lalang berjalan di sepanjang jalan yang ramai. Ke sana kemari, ke situ ke sini, ke pusat belanja ke pusat makanan. Berbagi manfaaat dengan berbagi rezeki. Bersepatu dan berpakaian bagus. Berpasang-pasangan bergandengan tangan, bertiga-tigaan, berempat-empatan, jarang yang bersatu-satuan, kecuali para pengemis yang menjalankan pekerjaan atau sopir angkot yang menawarkan setiap orang untuk menaiki mobilnya (baik ya dia?). Banyak yang berkerudung sambil menunduk menjaga langkahnya, setiap nafas bagi mereka adalah zikir, barangkali, karena maut mengintai di mana saja. Banyak yang ber tank top, seksi dan menebarkan aroma syahwat di mana-mana.

Di antara mereka ada yang bersalaman-salaman, pastinya mereka saling mengenal, kalau ngga kenal kurang kerjaan salam-salaman begitu kecuali mereka baru kenalan. Mungkin teman sekantornya, bekas karyawan, bekas tetangga, bekas pacar, bekas istri, atau ada bekas saudara?
Katanya baru jumpa setelah libur dalam rangka lebaran karena lebaran di kalender dicetak merah oleh pemerintah, entah menteri mana yang mengurusi tanggal merah itu. Kalau lebaran itu salam-salaman, ngga tau memaafkan atau bukan, yang penting salaman biar kelihatan baru lebaran dan lama sudah tak ketemu.

Malam itu, di sebuah jalan beraspal. Ada dua kios parfum yang berhadapan. Yang satu sunyi, ayam yang mau mengeluarkan telur sepertinya cocok ada disana, satunya lagi ramai kayak warteg di siang hari diserbu orang kelaparan. Di tempat yang ramai itu peramu parfumnya banyak, sekitar tujuh orang cekatan mencampurkan larutan yang satu dengan yang lain, konsentrasi mengocok gelas larutan di depan wajah mereka. Pundi – pundi rupiah mengalir seketika. Sementara di tempat yang sunyi itu tak banyak manusia kecuali seseorang yang duduk di kursi sambil melakukan hal yang tak jelas pula.

Hujan turun, diakhiri gerimis besar, kemudian gerimis kecil dan koor binatang malam.

All We Needed Was Love...

Baru menonton film Nowhere Boy. Cerita tentang masa remaja John Lennon di Liverpool.
Orang tuanya meninggalkan ia sejak 5 tahun, kemudian dibesarkan saudara ibunya yang ia panggil Mimi.

Setelah ketemu ibunya ketika beranjak dewasa..oalah..Maknya itu tiba-tiba tewas ditabrak mobil..

Inikah yang membuat John Lennon nggak mau kehilangan orang-orang yang dicintainya,
sampai ia merelakan The Beatles demi Yoko Ono?
Imagine..

Page 4 of 9« First...«23456»...Last »