
Sedahsyat apa sih kekuatan seni itu?
Para ahli pasti lebih tau, iya, para seniman yang terkenal itulah pasti, bukan tukang jual obat atau gubernur, he he.
Tau film Les Choristes, kan? Lucu, kan? Seger, kan? berbeda sama film My Name Is Kan, eh, Khan..Khhaan (ngomongnya harus bener). Film Perancis itu lho. Yang ceritanya di asrama sekolah. Iya udah lama. Film ini blak-blakan ngomong bahwasanya disiplin ngga harus ditegakkan sama hukuman fisik, jewer kuping, ‘gedebak gedebuk’, ‘ciyaaat..!’, dan efek suara sejenisnya. Cukup dengan bernyanyi maka luluh lantaklah kebrutalan anak-anak sekolah dasar di sebuah asrama. Brutalnya sih standar, maksudnya ngga sampe ngebunuh orang, tapi lepas pengawasan terus bikin onar, kayak ngerjain guru, nyolong. Nah, terus ada seorang guru yang membentuk group choir (bukan Rudy Choirudin ye), jadilah paduan suara ini berhasil melembutkan perilaku anak-anak kecil tadi.
Guru saya adalah seorang perempuan yang concern sama anak-anak autis. Beliau membuktikan bahwa art dapat membangun komunikasi anak yang terlalu hanyut di dunianya sendiri. Pada awalnya beliau berdebat sama kalangan kedokteran, elektro, yang pada hal ini adalah para orang tua. Tapi terbukti, dengan menggambar anak-anak tersebut lebih sering ngomong.
Keindahan adalah benih yang sudah tertanam di kebun jiwa manusia sejak lahir. Kelak membentuk pohon kepribadian. Tinggal ia disiram atau dibiarkan kering kerontang.
Michelangelo pernah berkata, “I have a wife too many already, namely this art, which harries me incessantly, and my works are my children.” (ih, Michelangelo, kamu nggak normal ya?)






