Kekuatan Seni...

Sedahsyat apa sih kekuatan seni itu?
Para ahli pasti lebih tau, iya, para seniman yang terkenal itulah pasti, bukan tukang jual obat atau gubernur, he he.

Tau film Les Choristes, kan? Lucu, kan? Seger, kan? berbeda sama film My Name Is Kan, eh, Khan..Khhaan (ngomongnya harus bener). Film Perancis itu lho. Yang ceritanya di asrama sekolah. Iya udah lama. Film ini blak-blakan ngomong bahwasanya disiplin ngga harus ditegakkan sama hukuman fisik, jewer kuping, ‘gedebak gedebuk’, ‘ciyaaat..!’, dan efek suara sejenisnya. Cukup dengan bernyanyi maka luluh lantaklah kebrutalan anak-anak sekolah dasar di sebuah asrama. Brutalnya sih standar, maksudnya ngga sampe ngebunuh orang, tapi lepas pengawasan terus bikin onar, kayak ngerjain guru, nyolong. Nah, terus ada seorang guru yang membentuk group choir (bukan Rudy Choirudin ye), jadilah paduan suara ini berhasil melembutkan perilaku anak-anak kecil tadi.

Guru saya adalah seorang perempuan yang concern sama anak-anak autis. Beliau membuktikan bahwa art dapat membangun komunikasi anak yang terlalu hanyut di dunianya sendiri. Pada awalnya beliau berdebat sama kalangan kedokteran, elektro, yang pada hal ini adalah para orang tua. Tapi terbukti, dengan menggambar anak-anak tersebut lebih sering ngomong.

Keindahan adalah benih yang sudah tertanam di kebun jiwa manusia sejak lahir. Kelak membentuk pohon kepribadian. Tinggal ia disiram atau dibiarkan kering kerontang.

Michelangelo pernah berkata, “I have a wife too many already, namely this art, which harries me incessantly, and my works are my children.” (ih, Michelangelo, kamu nggak normal ya?)

Menyetubuhi pagi...

hiruk pikuk pasar adalah selimut tebal
dibalut aroma sayur dari pegunungan
itupun belum mampu membuka por-pori
apakah perlu makan lontong sayur dulu biar terasa hangat?

Bisikanmu...

Bisikanmu adalah hening ketika fajar. Padang rumput hijau yang menggantung di langit luas . Di luar bayangan manusia yang menari di bawah lampu jalan. Suka meloncat dari kepala hanya untuk memetik jambu air lalu membagikannya kepada anak-anak kecil yang lelah main bola.

Bila sore tiba, ia akan naik sepeda sambil berteriak di hamparan kebun teh, tak kenal lelah karena berkejaran dengan angin.
Bila menghujam ke bumi, cipratannya lebih kencang dari hujan badai kemarin sore, tak cuma mematahkan ranting tapi juga menyelami naluri lewat peredaran darah.
Begitu pelan seperti menyentuh awan.

Akhir Pekan...

(..ini adalah tulisan yang garing, absurd dan tak jelas)

Akhir pekan tidak berbicara tentang rutinitas, tapi ada banyak aktivitas dengan kontiunitas yang tak terbatas. Hari dihalalkannya sedikit malas, tidur pulas sampai puas, tak ada yang melarang kecuali kau didatangi calon mertua yang beringas. Ini juga adalah waktunya beres-beres perkakas, seperti merapikan kertas atau menyusun kembali berkas-berkas. Atau sekedar mendengar lagu band-band cadas sambil membilas pakaian kemudian dijemur di bawah langit biru nan luas.

Jalanan akan membludak oleh manusia-manusia dari berbagai kelas, mulai kelas atas sampai kelas patas. Berkumpulnya berbagai komunitas mengadu kepala dan kreatifitas. Wisata kuliner pun laku keras, meski sekedar minum jus nanas atau segelas kopi panas. Semoga saja yang kebanyakan jajan tidak menjadi obesitas. Semoga juga yang makan makanan pedas tidak mulas sampai tewas.

Paras-paras wajah yang antusias berjalan dengan senyum lepas dan saling membalas. Menatap awan berjajar rapi seperti melayangnya kapas. Tak ada cemas, sekalipun diganggu hujan deras dan serigala yang buas.

Akhir pekan tak sekedar mengeluh tentang apesnya jomblo ngenes. Tapi juga waktunya mengumbar asmara tentang romansa cinta dikelilingi tarian sutra melagukan dangdut Rhoma Irama.

Dan Sabtu ini banyak yang sibuk sama Hari Bumi Sedunia.

Bumi yang tua dan lelah..kasian kamu, diperingati cuma setahun sekali, jatahnya juga sejam. Padahal manusia yang tinggal di atasnya berstatus numpang, mana ngga bayar lagi. Eh, mbayar ding sama yang punya kontrakan. Di dunia ini yang gratis kan cuma kentut dan senyum..

(Poster di atas ceritanya akhir pekan di Bandung, dominasi plat mobil di Dago gitu. Konon pernah mejeng di pameran poster di BIP bulan Desember 2010)

Hingga Larut Malam...


Saya akan mencium Hajarul Aswad dan berdoa. Menanti para malaikat hingga larut malam.

Saya akan mencapai Piramida Carstensz seperti Heinrich Harrer. Berdiri pada sisi teringgi di nusantara itu sambil menyentuh salju abadi, membawanya pulang ke lembah hingga larut malam.

Kemudian terbang ke Basilika Saint Peter untuk menatap lukisan Michelangelo di langit-langitnya. Singgah di Florence yang katanya tempat kelahiran rivalnya, Leonardo Da Vinci.
Saya akan ke Sendai membantu korban tsunami. Jika sudah beres, berangkat ke Tokyo, mencari Aoyama Gosho dan menanyakan akhir cerita Detective Conan. Beristirahat di Taman Shinjuku. Lalu mampir di Shibuya dan mengelus-elus patung Hachiko. Kalau ada waktu akan memotret Tokyo Tower dan menuju Hokkaido, di sana hingga larut malam.

Esoknya menuju Madrid, mengunjungi Santiago Bernabeu dan melihat Jose Mourinho melatih crossing Mesut Oezil atau shooting Karim Benzema, sayang tak ada Cristiano Ronaldo dan Kaka, mereka sedang cedera.

Saya akan ke Palestina, belajar dari para ibu tentang manisnya iman di antara desingan peluru dan maut. Belajar arti keberanian dari para bocah saat melempar batu ke tank baja Israel. Atau tentang hidup dari para mujahid, hingga larut malam.

Saya akan London bukan karena menyusul The Changcuters, tapi ingin berjalan di zebra cross-nya Abbey Road ala The Beatles. Kemudian bercanda dengan Chris Martin, melihat Noel Gallagher menulis lagu. Jogging bareng Sir Alex Ferguson dan anak asuhnya di Old Traffod. Lalu bersenandung Asmaul Husna bersama Sami Yusuf. Tak Lupa melintas di Baker Street, penasaran saja dengan Sherlock Holmes yang beralamat di sana.

Saya akan meraba tekstur Arc de Triomphe di Paris. Berkunjung ke Museum Louvre, mumpung lukisan Monalisa belum dicuri lagi. Kemudian membeli sebotol wine dan menjualnya lagi di Indonesia.

Saya akan menjumpai artis-aktris di Korea, foto bareng dan menunjukkannya kepada teman-teman perempuan, mereka pasti ngiri. Setelah itu menuju Jeju Island yang katanya eksotis hingga larut malam.

Saya juga akan ke Mesir, melihat kondisi di sana setelah revolusi. Siapa tau bertemu Syekh Yusuf Qardawi, biar tak mengerti bahasa Mesir, tapi kalau salat beliau pasti bahasa Arab.
Saya akan ke California, mengobrak-abrik studio Pixar, memelototi para animator waktu membuat artwork. Kemudian mampir di San Fransisco, mengunjungi Landor dan minta diajari bikin logo yang mahal. Melihat karya Axis Architecture di Salt Lake City hingga larut malam.

Saya akan ke Banten bersama teman-teman yang lucu dan tersayang, berpetualang ke kampung Badui yang misterius. Kemudian menuju Pulau Bangka, tidur di atas pasir putihnya hingga larut malam.

Dan di antara semua tentang akan, yang ter-akan adalah pulang ke rumah. Menjejakkan kaki di atas tanahnya sambil makan tempe goreng dan keripik sambal. Menghangatkan diri samping ibu ketika fajar, menatap damai wajahnya hingga larut malam.

(ilustrasi : nggambar sendiri)

Page 3 of 9«12345»...Last »