Percaya Saja...

Jangan percaya siapapun. Kira-kira begitu kesimpulan saya waktu ngobrol bareng temen di suatu siang seminggu yang lalu dibawah rindangnya pohon pete. Tulisan ini juga aneh, belum apa-apa udah bikin kesimpulan. Ah, anggap saja jenis tulisan deduktif, eh deduktif atau induktif sih? Udahlah ngga usah diperpanjang.

Intinya, jangan terlalu mempercayai orang lain, termasuk kepada diri sendiri. Kalimat ini didapat dari proses panjang melalui pengalaman nggak meng-enak-kan dalam menjalin hubungan emosional dengan orang-orang. Kalau departemen kebudayaan dan pariwisata menyebutnya dengan istilah the culture of distrusted, yaitu ketika orang Indonesia terlalu sering ber-suudhon sehingga budaya tidak saling mempercayai semakin berkembang. Terserahlah apa kata mereka.

Jawaban tentang kepercayaan kepada orang lain saya coba mencari-cari sejak jaman dulu, waktu dark age menguasai pikiranku (halah). Sempat juga mengikuti doktrin nggak mempercayai siapapun. Sebuah pemikiran yang emosional. Malahan sangat emosional, maklumlah namanya berada dititik puncak ter-labil pada waktu itu. Meski merasa bebas merdeka, tapi efek sampingnya egois berlebihan.

Dan pada akhirnya saya semakin meyakini bahwa penggenggam hati manusia adalah Allah. Percaya kepada siapa saja, pun kalau mau berharap jangan lupakan yang menggenggam harapan itu. Bahkan diri kita sendiri, Dialah yang paling tau.

Dan musim panas pun tiba...

Sepanjang jalan Siliwangi ramai akan daun gugur. Ada yang masih terbang, kemudian jatuh dan menumpuk di tepi jalan menjadi gundukan lalu berbaris berwarna kuning keemasan. Kalau selama ini langit pagi selalu kelabu, tidak dengan sekarang. Gumpalan awan nampak cerah karena matahari bersinar pijar sampai ke bumi.

Manusia-manusia akan mengeluh dan mengeluh, “hareudang pisan”, pikirku.

Musim panas akhirnya tiba di Bandung. Meninggalkan musim dingin yang panjang.

Page 2 of 14«12345»...Last »