_sebuah memori tentang matahari tenggelam

Sudah lama tak kulihat batara surya pulang ke peraduan bersama sisa sore, memantulkan cahaya kemerah-merahan di asinnya air laut yang mulai hijau kecoklatan, dan airnya akan terasa amat menyilaukan. Seketika itu juga batara bayu meniupkan udara sejuk di tepi pantai mengalahkan peluh dan kegerahan. Nun di kejauhan, di antara suara ombak dan senja yang mulai padam beberapa anak asyik bermain bola. Bahkan di antara mereka masih ada yang berenang tanpa merasa kedinginan.
Kadang, kusaksikan matahari perlahan tenggelam di balik bukit dari jendela kamar. Meninggalkan lazuardi di luasnya marcapada, kebanyakan cahaya itu hinggap di awan sirrus dan kumulus, berbentuk bulu halus yang kadang terpisah-pisah dan kadang tersusun secara teratur dalam kelompok-kelompok. Yang paling kukagumi adalah pada bagian ini. Ketika awan dan langit perlahan menjadi jingga, merah, ungu, semuanya tercampur namun tetap elok. Puncak bukit, pepohonan beserta daunnya, burung yang terbang sekalipun akan terlihat siluet. Membentuk lukisan alam yang maha sempurna. Subhanallah!! Dialah desainer paling hebat di jagat raya ini.

