Kota Itu Berjulukan Kota Salak

Bila anda melakukan perjalanan darat dari kota Padang menuju Medan dengan rute Sibolga -Tarutung, anda akan melewati satu kota berkembang yang mendapat julukan kota salak. Bukan karena di tengah kota ada tugu salak raksasa seperti halnya kawasan utara kota Padang tahun 80-an yang mendapat julukan kota bingkuang, tetapi karena kota ini menghasilkan salak yang melimpah, hampir sepanjang hari sepanjang tahun.
Teringat pada lagu daerah setempat yang sering terdengar sejak dulu
“ketabo-ketabo…/Ketabo dongan tu sidimpuan on/Musim ni salak sannari disi dongan/…
…..dst (kelupaan..he…he…)
Terjemahan bebasnya kurang lebih : re kayo rek, mlaku-mlaku nang sidimpuan, disana lagi musim salak lho….
Dari sepenggal lagu ini terbayang jelas, kalau di Padangsidimpuan selain musim hujan dan kemarau ada juga musim salak sepanjang tahun….Untuk daerah-daerah pemukiman padat salak ini penduduk menyebutnya Parsalakan, artinya ya itu tadi, tempat menyalak…he..he,tepatnya tempat tumbuh salak. Umumnya daerah luar Kota Padangsidimpuan, yang berdekatan dengan bukit dan gunung.

Salak-salak ini memiliki rasa khas, buahnya tak terlalu besar amat, rasanya manis-manis sepat, tidak seperti halnya salak pondoh yang manis sekali. Enak sekali kalau dibuat manisan,..itulah salak Sidimpuan
Bila anda membeli salak di kota ini, packaging yang anda dapatkan sangatlah khas, sangat peduli lingkungan sekali, penduduk menyebutnya dengan sumpit, yakni karung yang dianyam dari daun salak yang telah dikeringkan. Ukuran karungnyanya nggak besar-besar amat, segede kantong kresek yang di swalayan.

Foto diambil dari bukit Simarsayang sekitar bulan September 2006.

(diimport dari blog yang seharusnya didedikasikan untuk kampung halaman, tapi sampai sekarang nggak kelar-kelar)

3 Comments »

  1. avatar ijal Says:

    jadi lo orang padang apa medan bro?

  2. avatar ipung Says:

    @ijal :
    orang jawa numpang lahir dan besar di tempat orang batak dan sekarang numpang lagi di tempat orang sunda…

  3. avatar Kangmasmu Says:

    Yang jadi “anak gunung”itu sekarang sudah kelas 1 SMP di Batam, bulan puasa 2 tahun lalu dia sempat pulang ke Sidimpuan,aku njemputnya ke ujanan,mulai dari Sitinjak sampai Sibolga,saking lamanya kena ujan,busi motorku sampai mbrubut-mbrubut…apinya ilang…

    Begitu ketemu sampai rumahnya aku malah di cemberutin sama Tantenya,dikira mau nyulik..hahahaha…
    padahal si”anak gunung” sudah kangen pingin ketemu mBahnya..
    ahirnya,dengan pakaian seadanya,kami berdua boncengan selama 2,5 jam,di tengah ujan…ke Sidimpuan…
    seru kan??..
    selama perjalanan banyak yang aneh-aneh Pung…
    pingin ngerti??
    butuh waktu…

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment