Jika bepergian ke Lembang via Bandung, kita akan melewati sebuah kantor Polisi yang di seberangnya berderet penjual ayam dibakar atau dipanggang. Di pinggir jalan segerombolan delman siap mengantar siapa saja dan ke mana saja selama sang kuda standby dan tidak ngambek. Nah, di dekat situlah terdapat jalan masuk ke Gunung Jayagiri.
Sebelum ke puncak, kami shopping dulu ke pasar Lembang. Kayak mau piknik di pantai saja, segala beli jagunglah, singkonglah, plus arang serta mi instan. Selama belanja, saya agak heran. Karena Lembang yang selama ini saya anggap Sunda pisan, malah yang jualan di pasar banyak orang Batak lho. Jadi lucu mendengar mereka bicara, logat batak tapi bahasa Sunda. Memang, orang batak ada di mana-mana..
Empat lelaki selesai menjalani tugas belanja, kami bergegas dengan naik…delman. Pertama kali dalam sejarah hidup, saya naik kendaraan berlapis kuda tersebut.
***

Perjalanan kami dimulai dengan membagi barang yang harus dibawa setiap orang. Saya dan empat teman kebagian membawa tenda. Tenda tentara yang biasanya dipake di pengungsian, beratnya nggak ketulungan, gede lagi, plus besi sama tambang. Tapi perjalanan jadi benar-benar menantang. Saking menantangya, ‘hanya’ untuk mengangkat tenda memakan waktu tiga setengah sampai empat jam.
***

Kami tiba saaat senja. Barisan pohon pinus seolah menyambut kedatangan kami. Dan kemping dimulai. Malam yang dingin, gak perlu kulkas karena air biasa bisa jadi air es. Api unggun juga nggak bisa mengusir dingin masuk ke celah kulit dan menusuk tulang. Pengen cepet pagi. Dan malam ini cepat tidur ngumpulin tenaga buat besok.
***

Pemandangan yang eksotis dari puncak. Subhanallah !!!

Ternyata ada jalan lain ke puncak Jayagiri yang jalanannya lebih mulus dan hemat waktu, bahkan kendaraan bisa melewatinya. Yaitu jalan ke arah Gunung Tangkuban Perahu. Maksudnya, jalan lain ke Tangkuban juga menuju puncak Jayagiri ini. Tau gitu, gak usah capek-capek bawa tenda yang super duper berat…tapi semua ada hikmahnya ^_^
***

Nyam..nyam..nasi liwet yang sayang untuk di'liwat'kan. Padahal sebagian nggak matang lho, ada yang agak keras gitu. Tapi embat waelah...yang penting kenyang..
***

Malam datang lagi, malam yang mencekam disertai hujan angin. Dan kami harus berjuang supaya tenda nggak roboh. Karena rumput yang basah, akhirnya kami mengungsi ke rumah si Emak, seorang penduduk yang baik hati dan jago bikin bala-bala.
***

-

Pagi tiba menawarkan kesejukan, sarapan jagung bakar dan pulang. Dari tanggal 22 sampai 24, cukuplah sehari dua malam menginap di tempat ini…
***

kapan-kapan ke sini lagi…

-




Hebat euy, karompak!! Salut!
bener2 ga tau saya . . . mypurnomo.com tuh isinya ini. . . saya baca mpe habis. . terusin moo,,
It’s AMAZING !
hehe. makasih-makasih..